Besaing di Masa Depan (tips Joseph Schumpeter dari Harvard )

17 Juni 2009 § 2 Komentar

Sudah sejak dulu Joseph Schumpeter, ekonom dari Harvard, mengatakan bahwa persaingan memperebutkan pasar di antara perusahaan yang menggunakan teknologi saja kurang “menarik”. Walau tidak jarang persaingan seperti itu melibatkan banyak uang, sebenarnya konsumen tidak mendapatkan sesuatu yang benar-benar baru. Secara keseluruhan, kualitas hidup manusia cuma bisa ditingkatkan oleh teknologi baru. Karena itu Schumpeter berpendapat, persaingan baru menarik kalau suatu teknologi baru melahirkan industri baru.

Lihat saja bagaimana perusahaan Perancis, Michelin, bisa merajai industri ban mobil dengan menggunakan teknologi radial. Padahal Perancis tidak berjaya di industri mobil. Lalu General Electric memperkenalkan plastik sebagai pengganti metal. Lalu bagaimana Apple dengan personal komputernya merobohkan raksasa IBM, yang percaya akan mainframe. Persaingan antarteknologi yang menghasilkan clash antara industri lama dan industri baru disebut sebagai Schumpeterian Competition.
Proffesor Gary Hamel dar London Business School bercerita tentang cara “bersaing di masa depan”. Bagi Hamel, seperti juga Schumpeter, sekadar bersaing di masa kini kurang menarik. Ia menyatakan, paling-paling Anda cuma bisa rebutan pasar di antara perusahaan yang sudah ada.
Hamel memberi contoh bagaimana perushaan-perusahaan Jepang, yang 20 tahun lalu masih kecil dan tidak dianggap sebagai pesaing, pada saat ini mendadak menjadi besar dan ditakuti. Itu bukan kebetulan, melainkan terjadi lewat usaha keras. Semetara perusahaan Amerika hanya saling bersaing untuk masanya, perusahaan Jepang sudah bersaing untuk masa depan.
Apa yang telah mereka perbuat? Mereka tidak mau turut pada aturan main yang sudah ada. Alasannya, aturan-aturan semacam itu biasanya sudah ditetapkan oleh para pemain besar. Buatlah aturan baru supaya semua bingung. “ Anda sendiri akan bingung karena belum ada aturan semacam itu. Tapi pesaing Anda akan lebih bingung,” kata Hamel.
Lihat saja bagaimana JVC, yang relatif kecil, bisa mendikte dunia dengan sistem VHS. JVC mengalahkan sistem V-2000 dari Philips dan Beta dari Sony secara telak. Ironinya, Ampex, yang pertama menemukan teknologi rekaman video, sama sekali tidak berkutik . Pada saat ini tidak satu pun VCR buatan Amerika dijual di Amerika. Kalaupun ada, pasti cuma tempel merek.
JVC meperjuangkan mati-matian penggunaan teknologi VHS yang bisa merekam lebih panjang dan lebih bagus, sampai akhirnya diakui seluruh dunia. Ini contoh nyata bagaimana teknologi plus keterampilan yang merupakan inti dari suatu kompetensi bisa merupakan kapabiltas yang hebat, dan akhirnya jadi suatu keunggulan bersaing.

Hamel menganjurkan, supaya perusahaan-perusahaan selalu bisa melihat peluang di masa depan, carilah kompetensi inti yang memenuhi tiga syarat :
Pertama, harus bisa memberikan disproportionate customer perceived value. Artinya, teknologi bersangkutan bisa memberikan suatu nilai baru, yang benar-benar lainn dari yang sudah ada. Kedua harus sulit ditiru orang lain.
Ketiga, suatu teknologi harus bisa memberikan kesempatan baru karena melahirkan industri baru. Maka Hamel lebih suka bicara tentang core competence, yang dianggap sebagai inti dari suatu competitive advantage, yang sering digunakan untuk bersaing pada masa kini.

sumber : Ebook siasat bisnis.

 

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to Besaing di Masa Depan (tips Joseph Schumpeter dari Harvard )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Besaing di Masa Depan (tips Joseph Schumpeter dari Harvard ) at kupu biru.

meta

%d blogger menyukai ini: